Aku, kamu dan persahabatan itu…

Mungkin bagimu menyapa seseorang lewat pesan singkatย  itu hanya sekedar hal kecil pelengkap hidupmu namun boleh jadi baginya hari itu kaulah alasan baginya untuk tersenyum lebih lama

Begitulah kira-kira kata-kata yang sering terlintas dalam benak saya ketika teman-teman lama yang saya hubungi begitu sumringah membalas pesan atau menelfon saya. Ketika kita tengah sibuk, pekerjaan seolah mengambil hampir semua perhatian kita. Kadang saya benar-benar lupa ternyata sudah satu minggu tidak menelfon ayah atau ternyata sms adik-adik kampus 3 hari yang lalu belum sempat saya balas. Jangan pikir ketika sms itu datang saya lupa, saya benar-benar ingat sms itu telah saya baca, hanya saja saya mengabaikannya beberapa waktu, namun itu malah membuat saya benar-benar lupa.

Saya punya sahabat seorang gadis Jawa yang kerap kali saya panggil ‘Imahku’, itu panggilan kesayangan saya untuknya :). Kami teman satu kampus, satu kompleks kos, satu organisasi dan pernah 2 tahun di bidang yang sama. Kami sering rapat jam 6.30 setelah itu beli makanan kecil sejenis gorengan di depan mesjid, kemudian boncengan pulang ke kos dan beliau selalu kebagian menjadi ‘mbak ojek’ saya. ๐Ÿ™‚ Bahkan saya pernah 2 kali jatuh dari motor, yang dua-duanya mbak ojeknya dia ๐Ÿ˜† . Kebiasaan itu terjadi berulang-ulang setidaknya setahun lamanya, jadi bisa dibilang beliau tidak lagi sahabat tapi saudara saya.

Ketika tahun-tahun terakhir di kampus meski sibuk dengan skripsi masing-masing, namun kedekatan kami tak pernah berkurang malah benar-benar semakin dekat. Namun rupanya teman saya ini lebih dulu tamat satu semester dibanding saya. Setelah di wisuda beliau pulang kampung dan hanya berselang 6 bulan setelah itu beliau menikah. Dan parahnya saya tak bisa hadir menghadiri pernikahannya karena sedang ujian sekolah.

Saya hanya sempat memberi selamat pas hari H pernikahannya, setelah itu saya seolah lupa menghubunginya hingga hampir 3 bulan. Yups… seperti yang saya bilang tadi sebenarnya saya benar-benar tidak pernah melupakannnya tapi karena alibi kesibukan, saya tidak menghubunginya hampir 3 bulan karena menurut hemat saya biarlah saya memberi ruang untuk kebahagiaannya.

Namun ketika 2 hari lalu saya mengirim pesan singkat menanyakan kabarnya, ternyata alibi-alibi sepele saya itu benar-benar membuat saya harus introspeksi kembali tentang makna silaturrahmi. Beliau menyangka saya benar-benar menghindar karena status kita telah beda, beliau juga bilang pekerjaan saya sebegitu mengasyikkan hingga lupa menghubunginya dan beliau sempat terfikir kalau saya benar-benar telah melupakannya.

Saya mendengar betul tawa sumringahnya, saya benar-benar menyesal terkadang terlalu cuek menghubungi teman. Kadang diri ini terlalu cuek hingga melupakan bahwa meski sesibuk apapun, saudara kita berhak mendapatkan perhatian kita meski hanya berkirim pesan singkat.

Jadi jangan sepelekan perhatian kecil kepada saudara kita-sahabat kita. Karena boleh jadi sesuatu yang menurut kita biasa saja ternyata luar biasa bagi mereka.ย  Pesan ini benar-benar nasehat untuk diri saya…. Saya tulis biar saya ingat, saya ingat biar saya amalkan ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

Iklan

13 thoughts on “Aku, kamu dan persahabatan itu…”

    1. ya tentu bisa bersahabat…seperti kita bersahabat dg teman-teman Kampus, nmn tentu tidak akan bisa jika kita menginginkan bersahabat layaknya kedekatannya seperti kita bersahabt sesama perempuan…begitu pendapat saya mbak ๐Ÿ™‚

      Suka

jangan lupa tinggalkan komentar kawan ^^

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s